Pages

Wednesday, January 19, 2011

Sekadar Nostalgia

teruntuk Kecil...

Hei, sedang apa kamu di situ? Masih duduk manis menunggu suratku? Ah, akhirnya protes pertamamu keluar juga. Kenapa kita tak mencoba berkomunikasi dua arah secara langsung saja? Telepon, pesan singkat, berbalas mention, wall-to-wall, chatting di messenger, atau Skype? Dan menurutmu, aku malah mengirim setiap hari surat-surat konvensional yang dikirim lewat pos dan kantor ekspedisi. Aku memang tidak ingin terlalu ikut arus atau mainstream. You know what? Jadi berbeda itu kadang menyenangkan. Semacam ada sebuah sensasi tersendiri ketika aku membuka binder, mengambil dua sampai tiga lembar loose-leaf paper dari dalamnya. Kemudian aku mengambil pena, dan mulai menulis satu persatu, huruf per huruf hingga ia bisa dibaca dan menjadi sebuah kata yang saling terkait dan punya makna. Jangan protes dulu ya, setidaknya sampai beberapa minggu ke depan, nanti bila surat ini telah tiba pada bagian akhirnya, kita bisa mulai kembali kok berkomunikasi dua arah. Menuangkan ide, perasaan dan suasana hati dalam surat konvensional itu lain daripada yang lain. Tiap tekanan penulisan, coretan, bahkan tidak sedikit tersapu oleh tetesan air mata, buatku menjadi semacam candu dan penanda bahwa di tiap kata, tiap cairan tinta yang terbuang terkandung sebuah emosi yang bisa menjadi semacam geletar yang mendebarkan dan punya nyawa ketika dibaca.
Tentu kau bisa merasakannya, bukan? Ya sudah itu penjelasanku. Semoga bisa diterima. Kita ganti topik saja. Banyak hal yang belum selesai aku bagi dan ingin aku tulis di sini.

Kau masih ingat Magelang, Kecil? Setahun berselang setelah kita liburan bersama, kota ini seakan-akan terus berkembang dan semakin maju. Memang, tidak semuanya sih. Tapi terlihat jelas bahwa kota ini semakin terjamah modernisasi. Lahan kosong, sawah-sawah yang tak jauh dari terminal kota, kau ingat? Di kaki bukit Tidar yang dulu menghijau karena padi-padinya, kini sedang bersolek dan berganti rupa menjadi sebuah entertainment centre. Biasalah orang menyebut MALL. Ironis memang, kadang modernisasi membawa suatu andil yang besar untuk perkembangan jaman, tapi di satu sisi, tidak memperhatikan keberlangsungan sumber daya alam dan ekosistem.
Bukit Tidar tetap masih hijau. Tak perlu risau. Jadi, ketika nanti kamu ada rencana kembali kemari, aku masih bisa mengajakmu untuk naik ke puncak bukit, menikmati udara yang bersih sembari meresapi buaian angin dan kicauan burung kenari. Iya, memang, kota Magelang tidak akan terlihat jelas dari puncak ini, karena tertutup pohon-pohon Pinus tinggi. Tapi... masih ada tapinya, kamu bisa kok memandang para calon perwira, taruna-taruna muda yang sedang di gembleng di bawah sana. Akademi Militer. Hahaha... para calon TNI dan Jenderal-jenderal di masa depan. Seru, kan?
Sore ini, rencananya aku ingin kembali ke kedai makanan cepat saji berlogo Bapak Tua Jenggot untuk sekadar menikmati segelas sundae. Bisa di bilang, pengen menikmati masa-masa kita duduk di pojok restoran itu suatu siang setelah kita pulang dari Candi Borobudur. Hahaha... Aku masih ingat, kau tampak tidak suka ketika aku menerima cipika-cipiki dari seorang sahabat lama waktu sekolah yang tak sengaja ketemu di sana. Jangan cemburu deh, ya. Hihihihi... Aku memang kadang agak badung. Tapi percayalah, aku ini baik hati.. *alahh, gombal*
Rasa es krim memang seperti es krim yang lain. Bahkan es krim milik si Badut yang kita beli waktu di Yogyakarta masih jauh lebih enak. Menurutku, sih karena aku makan es krim sambil liatin mata kamu. Ehem... Tuh kan jadi merah begitu pipinya. Persis tomat ranum di kebun Pak Tani yang siap dipanen. Merah segar.
Kenyataannya begitu, kan? Pasti kamu langsung tersipu-sipu begitu jurus monyetgombal aku lancarkan padamu. Hahaha... aku suka sekali kalau untuk yang satu ini.

Oh ya, Kecil, aku kan sudah bercerita banyak hal. Lain waktu, mau tidak kamu gantian bercerita tentang kotamu, hari-harimu, yang pastinya akan sedikit mengobati kerinduan kronis ini. Langsung sembuh malah aku pikir kalau kita bisa sama-sama berbagi cerita meski bukan lagi satu suara.

Kamu memang masih termasuk bagian terpenting dari perjalanan 365 hari ini. Mewarnai hariku hingga aku tetap bisa berdiri sampai saat ini. Tetap jadi penjaga setia ya buat hatiku. Tak akan ku tarik sewa perbulan untuk ruangan spesial di sana. Cukup kau beri aku senyuman, sapaan halus dan semua-muanya yang penting itu darimu. Aku sudah senang sekali.

Uhhh, surat ini aku juga tidak tahu bagus atau tidak. Tapi kucoba yang terbaik untuk tetap menulis. Spesial untuk Kecilku.

Sudah dulu ya. Selamat berjibaku dengan waktu. Ingat, jangan disia-siakan; sekali kelewatan kita belum tentu punya kesempatan untuk berputar haluan...

Salam sayang, Monyetgombal



PS: Aku suka avatar barumu. Crayon Shinchan. Aku tidak berhenti tertawa karenanya. Kamu makin lucu, Kecil.

====================
Edutria, 2011. Magelang pada akhirnya membawaku kembali. Bagian keenam. Surat sebelumnya bisa dibaca di sini

2 comments:

  1. nice letter du.. Tapi, coba perhatikan soal panjang paragraf deh. Nggak kepanjangan tuh, Du? Hehehehe.. Terus menulis yaa, aku suka baca postingmu :)

    ReplyDelete
  2. Hahaha.. Makasih, Septa. Kayanya sih memang kepanjangan. Next time akan coba lebih baik lagi. :))

    ReplyDelete

Kembang Api

Taman kota dan lalu lalang pekerja ibukota selepas jam kerja. Dia senang sekali mengamati manusia-manusia yang melintas di depannya. Suara k...