Pages

Thursday, January 27, 2011

Menunggu


Untuk Sapta di manapun berada...

Menunggu itu pekerjaan membosankan. Aku ini seperti terpasung pada keadaan yang tak mengijinkanku melongok sejenak ke dunia luar. Aku di sini terpaku pada sebuah perasaan atau janji? Untuk tetap setia mencintaimu? Aku sendiri pun tidak yakin, dari hari ke hari.
Menunggu itu lagi-lagi terus membuatku semakin tua, tak berguna. Karena aku hanya bisa ongkang-ongkang kaki tanpa pernah tahu kapan kamu akan kembali.
Menunggu kadang menyenangkan, pun tak sedikit aku merasa bosan yang teramat sangat. Semacam ingin bergerak menuruti kata hati dan otak, tapi aku cuma bisa diam, terbelenggu oleh perasaan entah dan membuatku lumpuh.
Menunggumu itu kadang seperti menabung rindu yang dibalut jutaan liter airmata, menunggu untuk jebol dari pertahanan. Tidak enak, kau tahu?
Tapi sudahlah, ada saatnya bahwa aku memang harus melepaskan. Sama seperti kamu yang pertama kali melepas semua. Akan tiba waktu, bahwa penantian ini, menunggu, sampai pada titik akhir. Mungkin ini saatnya.
Aku juga tidak yakin, namun kalau aku tetap berdiam diri siapa yang akan menjamin? Tidak ada. Semua kembali pada diriku sendiri.

Aku bangkit, mulai berjalan, meski tertatih. Waktu yang teramat lama memasungku, seakan merampas kemampuanku untuk berjalan bahkan berlari. Hahaha... perlu proses belajar kembali pastinya. Aku pasti bisa. Tenang saja.

Kita memang sebaiknya berpisah arah, kau ke sana dan aku arah yang sebaliknya. Siapa tahu, dengan ini jalan kita tidak berhenti malah terus mengalir. Iya, kan? Sampai jumpa kapan-kapan...



Salam,
 Ps: Semua masih sama, hanya aku simpan di hati. Mungkin lain waktu kita bisa ketemu lagi? Hahaha...

=========================
Edutria, 2011. Kumpulan surat-surat cinta yang lain bisa dibaca di sini

No comments:

Post a Comment

Kembang Api

Taman kota dan lalu lalang pekerja ibukota selepas jam kerja. Dia senang sekali mengamati manusia-manusia yang melintas di depannya. Suara k...