Pages

Saturday, September 27, 2014

Morning Talk

You and I - we - used to be Us. We have ended our relationship - the commitment, dreams, everything - a month ago but still we share the same house, same room, and same bed until today. Under the blanket we talk about everything like nothing wrong.

"When will you move out?"

"I don't know. Maybe the end of this month. Why? You want to?"

"No. I go afterward and make sure you're okay overthere."

Yes, we agreed to separate to each other. A new house, new life, and new beginning. We are trying to negate each other's presence. You know what? It was really really hard for the first time but we did it. I'm getting used to doing things by myself. Mall-hopping, going to cinemas, eating out, solo trip, and else. And you, I have known that you always go out with that someone new - him - I mean your new boyfriend indeed.

"Where are you going?"

"Nowhere. I just want to be here at this moment. Enjoying my solitude."

"But.."

"It's okay. You can contact me anytime."

Then he fell asleep on my lap. I don't know. It feels like our chemistry still there. That sparks I always feel in my heart. Maybe we're still have the same feeling. I kissed his forehead as usual and stroked that eyebrows to calm him down. I hugged tighter. We were meant to be - and always will.

"Hey, you have to go to office. Don't be late." He looked at my eyes, "why?"

"You know, I still love you. But I have to acknowledge the reality, the facts that I am not your lover anymore."

He hug me even tighter and stroked my hair, "I know," he said.

"I wish nothing but your happiness eventhough that doesn't count me in. I am really sorry for everything. Our fights, debates, being rude. We've been through tough days before. I'm tired."

"Me too."

Suddenly he asked me something. A question that makes me struggle all this time, "Will you promise me - you will not doing bad to him?" I lost my words in second. I just smile, realizing he has been replaced me with that person. I wonder if I ever cross his mind. At least for once? People say we can not replace someone with someone else even if we love them both.

"I don't know. You know, it was really hard. But yeah I will try... my best."

But, that doesn't mean I promise you. There is something you don't understand right now. In time you will. I hate him. That's it. I just need a time to heal the wound and forget the scar I have to dealing with.

"I will NOT doing bad and any harm to him. Someday, he will meet me up when everything's get better. I believe that. Fate."

We kissed on lips. Gently. May be the last one. That moment I have to hide my teary-eyed and smiled widely. I hugged him. We already created the best moment to remember. Remember us, remember love.

"I love you, Gie.."

***

Jakarta, September 2014. 7.00am, a lazy Friday morning. Just you and I.

 

 

Friday, September 12, 2014

See The Bigger Picture

Hidup sedang indah-indahnya - katakanlah berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan saya. Lalu tak beberapa lama saya dihadapkan pada situasi atau momen yang membuat ingin berteriak sekerasnya, lari, dan bahkan frustrasi.

Di kantor seorang rekan kerja mengundurkan diri tiba-tiba dan semua tanggungjawab pekerjaannya diserahkan pada saya. Padahal ada sebuah deadline mendesak dan permasalahan yang harus diselesaikan dalam tenggat waktu terbatas. Saya mulai merutuk dalam hati, sial sekali hari ini. Banyak hal yang harus dikejar tentunya. Menolak untuk menerima tanggungjawab pun rasanya tidak mungkin karena pekerjaan ini berhubungan langsung dengan tugas saya. Terpaksa menerima walau jengkel setengah mati. Bos rupanya berbaik hati karena memberikan tambahan waktu mengingat porsi tugas yang sudah terlampau banyak untuk saya kerjakan sendiri. Sedikit lega, tetapi masih ada bayangan apakah saya mampu untuk menyelesaikan tepat waktu.

Belum cukup sampai di situ, kekasih saya mengirim sebuah pesan; lain dari biasanya. Ditengah rutin pekerjaan yang sedang tinggi-tingginya itu saya diminta bertemu karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Tidak bisa ditunda. Saya berusaha memberi pengertian bahwa waktunya tidak cukup untuk bertemu. Kekasih saya mau menunggu hingga selesai jam kerja dan kembali fokus untuk menyelesaikan semua deadline yang ada di meja.

Sore hari ternyata keadaan tak kunjung membaik. Deadline dan tumpukan berkas belum rapi di atas meja saya. Penuh. Ditambah hari itu hujan. Lengkap sudah. Tidak akan mungkin terkejar untuk bertemu dengannya malam ini. Lalu lintas Jakarta yang semrawut kala hujan dan kenyataan saya masih harus berkutat dengan angka-angka ini lebih lama.

Klung! Klung! Notifikasi di telepon genggam saya. Sebuah pesan yang harusnya tidak perlu saya buka saat itu.
Dear you,

bagaimana kalau semua kita sudahi sampai di sini?

saya menyayangimu

tetapi, saya tidak bisa bersama lagi denganmu.

Lengkap sudah rasanya. Hari ketika semua terasa menumpuk di kepala, memukul dadamu seperti palu godam yang menghantam tembok tanpa beban. Saya sendiri tidak tahu harus berbuat apa.

Saya temui dirinya malam itu. Bertanya dan berusaha mengulik penjelasan tentang semua yang saya baca di pesan tadi. Hubungan kami harusnya sedang baik-baik saja. Harusnya tidak demikian gampangnya. Kepala saya terus menerus menjejalkan ratusan tanya mengapa dan harusnya.

Saya akhirnya mengiyakan. Tersadar bahwa memang tidak ada yang harus dipaksakan atau diperbaiki. Mungkin ada kesalahan dari saya turut andil hingga semuanya begini. Penyesalan itu ada. Malam seakan makin panjang ketika kami menghabiskannya dalam hening. Tanpa suara. Keheningan yang meluluhlantakkan sekali jadi.

Saya menjalani hari seperti robot. Ada yang kosong dalam diri ini. Tenggat waktu yang semakin dekat dan ditambah dengan kejadian tak terduga yang saya alami. Seperti ingin lari sembunyi dan berharap semua segera berakhir. Hari-hari yang berat pikir saya. Saya merasa sudah tidak mungkin lagi menyelesaikan sendiri. Ada perasaan ingin menyerah tetapi di dalam diri ada semacam dorongan untuk terus melangkah. Menyerah, gagal lalu menghadapi risiko terburuk kehilangan pekerjaan atau maju seberat apapun jalannya. Saya pilih yang kedua.

Titik temu. Ketika segala sesuatu menemui ujungnya. Terseok-seok saya berhasil mengerjakan tugas saya - menit-menit terakhir. Ada kepuasan tersendiri waktu saya akhirnya menutup spreadsheet  dan menekan ikon disket di layar komputer. It's over. Saya berhasil menaklukkan salah satu tantangan dan diri saya sendiri. Saya mampu.

Jawaban dari pertanyaan saya pun pelan-pelan menemukan jalannya sendiri. Orang baru itu rupanya. Hubungan saya boleh kandas, tetapi ketika saya berhenti bertanya dan mulai menerima segalanya entah kenapa terasa lebih mudah dijalani. Setidaknya ada sebuah kesempatan besar di depan menemukan seseorang yang memang layak diperjuangkan. Penyesalan demi penyesalan untuk hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan tidak akan pernah membawa saya kemana-mana. Penyangkalan pun sama sekali tidak ada gunanya.

Saya kembali dipertemukan dengan teman-teman dan sahabat lama saya. Orang-orang yang belakangan saya lupakan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan hal-hal pribadi lainnya. Mereka yang tiba-tiba hadir seolah menyadarkan bahwa saya tidak pernah sendiri. Orang-orang hebat yang ada di belakang saya kapanpun saya memerlukan bantuan atau sekadar untuk memeluk dan mendengarkan. Tugas-tugas di kantor pun semakin berkurang. Sepertinya saya disuruh untuk menikmati waktu-waktu saya dulu.

Lalu sampai akhirnya saya bertemu dengannya tanpa sengaja. Seorang teman lama yang dulu saya pernah jatuh cinta.

Ah, saya musti banyak bersyukur untuk ini dan segala hal yang terjadi. Saya tidak perlu menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Sesuatu yang hilang akan terganti, semua hal baik selalu akan kembali. Semua ada karena rencana. Saya, kamu, dan kita ada dalam rencana tersebut. Rencana Sang Maha Merencanakan. Terimakasih. :)

When we see the bigger picture, we do not regret.

 

Thursday, September 11, 2014

Melepaskan dan Sebuah Pilihan

Persimpangan. Aneka pilihan muncul di kepala. Seringnya semua ingin direngkuh dalam genggaman. Seperti menggenggam pasir semakin erat semakin banyak pasir yang berjatuhan. Terlepas. Lalu akhirnya kosong. Tangan kita tak menggenggam apa-apa. Kita lupa dengan ukuran kemampuan diri sendiri.

Siang yang terik ketika percakapan itu dimulai. Keinginan-keinginanmu, cita-citamu, dan semua pilihan yang sedang disajikan di depan mata untuk dipilih.

“Saya mau begini, tetapi saya juga ingin melakukan hal lain. Saya tidak tahan lagi,”

“Kamu harus memilih. Memilih dari sekian banyak kemungkinan yang akan terjadi dan bertanggungjawablah.”

“Saya takut,”

“Takut untuk pilihan yang salah atau takut bahwa kenyataan kamu tidak berani mengambil risiko?”

“Salah satunya. Namun, saya tidak ingin lagi ada di sini.”

“Lalu… apa masalahnya? Dan apa yang ingin kamu raih dalam hidup? Saya juga yakin masih banyak hal berkelindan di kepalamu. Keluarkan.”

“Saya hanya takut ketika semakin hari saya bertambah tua saya masih seperti ini. Di sini saja. Mentok. Saya harus mengejar cita-cita saya sebelum terlambat.”

“Boleh saya bilang sesuatu? Terlambat atau tidak itu relatif. Semua berasal dari pikiranmu. Buat saya tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Awalnya dari niat baik.”

“Saya juga merasa tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Apapun.”

“Tinggalkan atau kamu mulai lagi mencoba menikmati dan menerima apapun yang ada.”

“Saya tidak berani, tapi saya pun tidak tahan.”

“Melepaskan sesuatu yang memang sudah seharusnya dilepas itu sulit. Percayalah, tidak semua hal perlu kamu genggam sendiri. Tidak akan mungkin.”

“Lalu?”

“Lalu? Berhenti bertanya-tanya dan belajarlah menerima.”

“Ada satu hal yang masih mengganjal. Bagaimana ketika saya mengambil sebuah pilihan lalu gagal dan tidak ada seorang pun yang membantu saya?”

“Kata siapa? Pikiranmu? It is okay to ask for help.

“Saya maunya seperti ini, lalu begini, dan nanti begitu. Bisa?”

“Kamu terlalu banyak mau. Bingung sendiri akhirnya. Belajarlah cukup dan menerima apapun yang kamu punya.”

“Susah.”

“Siapa bilang gampang? Ketika memilih kita perlu tahu akhir tujuan termasuk risiko-risikonya. Namun, saya sendiri lebih menikmati proses menuju akhir itu tidak melulu hasilnya.”

“Termasuk risiko terberat?”

“Iya. Semua pilihan. Ada banyak hal untuk dipilih, lalu kita mengambil satu dan melepaskan yang lain.”

“Contohnya? Saya masih belum yakin.”

“Sederhana saja. Dari hal yang pernah kamu hadapi sebelumnya. Ketika kamu akhirnya mantap mengambil keputusan untuk pergi — melepaskan dan meninggalkan saya. Mulai dari situ.”

“Mengapa harus ke sana lagi?”

“Hanya contoh. Ketika seseorang dihadapkan pada pilihan rumit — melepaskan bagian terpenting hidupnya untuk hal atau seseorang baru yang menurutnya lebih baik — dan saya termasuk dalam pilihan-pilihanmu pada waktu itu.”

“………”

“Kamu bisa. Kamu sudah pernah memilih sebuah pilihan dan melepaskan sebelumnya.”

Lalu percakapan itu usai begitu saja.

E — September, 2014. Dua kepala yang mencoba mengerti isinya satu sama lain.

Kembang Api

Taman kota dan lalu lalang pekerja ibukota selepas jam kerja. Dia senang sekali mengamati manusia-manusia yang melintas di depannya. Suara k...