Pages

Friday, September 12, 2014

See The Bigger Picture

Hidup sedang indah-indahnya - katakanlah berjalan sesuai dengan keinginan dan harapan saya. Lalu tak beberapa lama saya dihadapkan pada situasi atau momen yang membuat ingin berteriak sekerasnya, lari, dan bahkan frustrasi.

Di kantor seorang rekan kerja mengundurkan diri tiba-tiba dan semua tanggungjawab pekerjaannya diserahkan pada saya. Padahal ada sebuah deadline mendesak dan permasalahan yang harus diselesaikan dalam tenggat waktu terbatas. Saya mulai merutuk dalam hati, sial sekali hari ini. Banyak hal yang harus dikejar tentunya. Menolak untuk menerima tanggungjawab pun rasanya tidak mungkin karena pekerjaan ini berhubungan langsung dengan tugas saya. Terpaksa menerima walau jengkel setengah mati. Bos rupanya berbaik hati karena memberikan tambahan waktu mengingat porsi tugas yang sudah terlampau banyak untuk saya kerjakan sendiri. Sedikit lega, tetapi masih ada bayangan apakah saya mampu untuk menyelesaikan tepat waktu.

Belum cukup sampai di situ, kekasih saya mengirim sebuah pesan; lain dari biasanya. Ditengah rutin pekerjaan yang sedang tinggi-tingginya itu saya diminta bertemu karena ada hal penting yang harus dibicarakan. Tidak bisa ditunda. Saya berusaha memberi pengertian bahwa waktunya tidak cukup untuk bertemu. Kekasih saya mau menunggu hingga selesai jam kerja dan kembali fokus untuk menyelesaikan semua deadline yang ada di meja.

Sore hari ternyata keadaan tak kunjung membaik. Deadline dan tumpukan berkas belum rapi di atas meja saya. Penuh. Ditambah hari itu hujan. Lengkap sudah. Tidak akan mungkin terkejar untuk bertemu dengannya malam ini. Lalu lintas Jakarta yang semrawut kala hujan dan kenyataan saya masih harus berkutat dengan angka-angka ini lebih lama.

Klung! Klung! Notifikasi di telepon genggam saya. Sebuah pesan yang harusnya tidak perlu saya buka saat itu.
Dear you,

bagaimana kalau semua kita sudahi sampai di sini?

saya menyayangimu

tetapi, saya tidak bisa bersama lagi denganmu.

Lengkap sudah rasanya. Hari ketika semua terasa menumpuk di kepala, memukul dadamu seperti palu godam yang menghantam tembok tanpa beban. Saya sendiri tidak tahu harus berbuat apa.

Saya temui dirinya malam itu. Bertanya dan berusaha mengulik penjelasan tentang semua yang saya baca di pesan tadi. Hubungan kami harusnya sedang baik-baik saja. Harusnya tidak demikian gampangnya. Kepala saya terus menerus menjejalkan ratusan tanya mengapa dan harusnya.

Saya akhirnya mengiyakan. Tersadar bahwa memang tidak ada yang harus dipaksakan atau diperbaiki. Mungkin ada kesalahan dari saya turut andil hingga semuanya begini. Penyesalan itu ada. Malam seakan makin panjang ketika kami menghabiskannya dalam hening. Tanpa suara. Keheningan yang meluluhlantakkan sekali jadi.

Saya menjalani hari seperti robot. Ada yang kosong dalam diri ini. Tenggat waktu yang semakin dekat dan ditambah dengan kejadian tak terduga yang saya alami. Seperti ingin lari sembunyi dan berharap semua segera berakhir. Hari-hari yang berat pikir saya. Saya merasa sudah tidak mungkin lagi menyelesaikan sendiri. Ada perasaan ingin menyerah tetapi di dalam diri ada semacam dorongan untuk terus melangkah. Menyerah, gagal lalu menghadapi risiko terburuk kehilangan pekerjaan atau maju seberat apapun jalannya. Saya pilih yang kedua.

Titik temu. Ketika segala sesuatu menemui ujungnya. Terseok-seok saya berhasil mengerjakan tugas saya - menit-menit terakhir. Ada kepuasan tersendiri waktu saya akhirnya menutup spreadsheet  dan menekan ikon disket di layar komputer. It's over. Saya berhasil menaklukkan salah satu tantangan dan diri saya sendiri. Saya mampu.

Jawaban dari pertanyaan saya pun pelan-pelan menemukan jalannya sendiri. Orang baru itu rupanya. Hubungan saya boleh kandas, tetapi ketika saya berhenti bertanya dan mulai menerima segalanya entah kenapa terasa lebih mudah dijalani. Setidaknya ada sebuah kesempatan besar di depan menemukan seseorang yang memang layak diperjuangkan. Penyesalan demi penyesalan untuk hal-hal yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan tidak akan pernah membawa saya kemana-mana. Penyangkalan pun sama sekali tidak ada gunanya.

Saya kembali dipertemukan dengan teman-teman dan sahabat lama saya. Orang-orang yang belakangan saya lupakan karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan hal-hal pribadi lainnya. Mereka yang tiba-tiba hadir seolah menyadarkan bahwa saya tidak pernah sendiri. Orang-orang hebat yang ada di belakang saya kapanpun saya memerlukan bantuan atau sekadar untuk memeluk dan mendengarkan. Tugas-tugas di kantor pun semakin berkurang. Sepertinya saya disuruh untuk menikmati waktu-waktu saya dulu.

Lalu sampai akhirnya saya bertemu dengannya tanpa sengaja. Seorang teman lama yang dulu saya pernah jatuh cinta.

Ah, saya musti banyak bersyukur untuk ini dan segala hal yang terjadi. Saya tidak perlu menyesal dan menyalahkan diri sendiri. Sesuatu yang hilang akan terganti, semua hal baik selalu akan kembali. Semua ada karena rencana. Saya, kamu, dan kita ada dalam rencana tersebut. Rencana Sang Maha Merencanakan. Terimakasih. :)

When we see the bigger picture, we do not regret.

 

No comments:

Post a Comment

Kembang Api

Taman kota dan lalu lalang pekerja ibukota selepas jam kerja. Dia senang sekali mengamati manusia-manusia yang melintas di depannya. Suara k...